Sebuah pesan singkat lewat Messenger di HP Androidku, membuatku terbangun dari tidur yang belum lelap, setelah kulihat teman lama mengirim pesan, Hai Bro, ada di Jakarta ya?
Iya, apa kabarnya? Jawabku berbasa basi
Ayo kita ketemuan di tempatnya bang Adian Napitupulu, kita mau diskusi, tulis temanku
Woow Mataku langsung terbuka, ini tawaran langka, Akupun langsung telpon via Messenger, kupastikan bahwa ini memang benar, kendati temanku ini orangnya jarang bohong. Akupun minta dikirim alamat dimana diskusi itu akan dibuat.
Sebuah pesan yang berisikan alamat lengkap rumahnya Adian dikirim kepadaku, kulihat jam di HP ku menunjukkan Pukul 22.00 WIB. Kucoba melihat aplikasi Grab yang ada di HP Ku, ternyata biaya ke tempat tujuan agak mahal, mungkin karena sudah larut malam. Uang yang kubawa agak pas pas-an, aku harus menghemat sedemikian rupa karena masih harus bertahan dua hari di Jakarta.
Dengan sangat menyesal, ku telpon temanku mengabarkan bahwa aku belum bisa kesana, tapi kuyakinkan temanku bahwa bertemu dan bercakap dengan Adian adalah kerinduan terbesarku.
“Besok Pagi aja kamu kesini, nanti kubilang abang Adian,” Ujar temanku.
Malam itu aku tidak bisa tidur nyenyak, serasa pagi begitu lama datangnya, jam 05.00 WIB aku sudah bangun, bersiap seadanya, Jam 06.00 Check Out dari Hotel tempatku menginap, ku pesan Grab dan benar, harganya sudah turun jauh.
Jalanan Jakarta masih sepi, tidak sampai 30 menit aku sudah sampai di rumahnya Adian, Alamat yang dikirim temanku kembali aku lihat dan memang benar ini rumahnya. Sebuah Mobil Honda Civic dengan Plat B 1998 MEI semakin meyakinkan aku bahwa ini memang benar Rumah Dinasnya Adian Napitupulu
Dua orang ibu yang tampak mencuci mobil menyapaku dengan ramah, akupun bertanya apakah Adian ada?
“Ada Mas tapi masih tidur, Bapak baru tidur jam Empat subuh tadi, kalau tidur di jam begitu biasanya agak telat bangunnya mas,” ujar Seorang Ibu dengan logat Jawanya
Akupun meminta ijin untuk menunggu Adian.
“Rumah Rumah ini banyak yang kosong Mas, tidak ditinggali, sedikit anggota DPR yang tinggal disini,” kata mbok Yuni, mungkin melihat kebingunganku
Dari sekian Rumah Dinas Anggota DPR, Rumah Adians agak lain, di depan sudah diatur seperti tempat diskusi, kursi kursi dibiarkan begitu saja, bebas bagi siapa saja untuk duduk.
Kendati jauh dari kesan rumah yang mewah, tapi lingkungan perumahan para wakil rakyat ini, cukup asri, banyak pohon perindang tumbuh dengan penataan yang lumayan bagus.
Sambil menunggu kucoba mengamati rumah dinasnya aktivis 98 ini, Sebuah Motor tua Honda Shadow 400 cc yang sudah dimodifikasi dan bertuliskan Son Of Democracy tampak diparkir di tepi, sementara itu ada 2 mobil yang diparkir didepan, sebuah Pohon Natal nampak masih terpasang sementara itu gelas gelas yang berserakan di atas meja belum dirapihkan.
Akupun memilih duduk di pojok sambil menunggu.
Jam di HP saya tepat menunjukkan Pukul 07.09 WIB saat suara batuk berulang ulang terdengar, seorang Pria kurus dengan Kaos oblong Putih dengan celana pendek tampak keluar sambil terbatuk batuk.
Mbok mbok, Panggilnya, dua orang ibu yang lagi asyik membersihkan mobil tampak mendekat, sebuah kunci Mobil diberikan oleh pria ini, “Tolong Mobil diparkirkan dengan betul,” kedua ibu itu tampak bengong, akhirnya pria itu tertawa, saya tidak sempat mendengar apa yang pria itu sampaikan kepada dua orang ibu ini, hingga membuat mereka bertiga tertawa, terpikir olehku, pria ini sedang bersenda gurau dengan ibu ibu yang adalah pembantu rumah tangganya.
Jarak dari tempatku duduk dengan Pria yang membelakangiku agak terhalang oleh bunga, tapi dari suaranya itu tidak asing bagiku, karena sering dengar di TV.
Kucoba mendekati pria itu, sambil memberikan salam, pria itu kemudian menoleh kepadaku, Yaa inilah orangnya, target yang kucari.
Sambil memperkenalkan diri dan mengatakan saya dari Manado
“Iya kamu yang dibilang Erwin, ayo silakan duduk,” katanya dengan ramah
Akupun duduk disampingnya dengan dibatasi sebuah meja kecil. Belum sempat bercerita Adian tampak terkaget, “Aku mau makan Babi, sisa dari semalam, ayoo kita makan Bersama,” ajaknya
Saya hanya tersenyum dan karena enggan, saya coba katakan bahwa di Manado daging Babi jauh lebih enak.
“Beda, ini daging Babi Sangsang ala Batak, enak,” kata Adian memaksaku.
Akupun dengan hormat mempersilakan dia untuk makan, karena aku beralasan sudah sarapan.
“Tunggu ya, tidak lama kok aku makan,” katanya sambil berlalu
Ternyata memang benar aku hanya menunggu sekitaran 7 Menit, Adian sudah kembali lagi duduk disampingku.
Aku berpikir waktu bersama Adian akan sangat sedikit mengingat kesibukannya, jadi beberapa pertanyaan yang sudah disusun, akan siap kutanyakan
Aku bertanya berapa lama dia tidak datang di Manado, yang adalah tempat lahirnya
“12 Tahun lebih saya tidak ke Manado,” ujarnya singkat
Saya kemudian bertanya bagaimana dia berorganisasi
“Tahun 1990 saya sudah di GMKI, di Universitas Kristen Indonesia, ada juga organisasi lainnya,” jawab Adian dengan datar
“Bang Adian bagaimana abang bisa sejago itu dalam berdebat?” sebuah pertanyaan andalanku kulontarkan
Adian tampak merenung, dahinya tampak mengkerut. “Itu butuh proses Panjang, melewati banyak diskusi, “Learning by doing,” kata Adian dengan mantap.
Adian berkisah bahwa selagi dia Mahasiswa, sering berdiskusi dengan berbagai aktivis dari berbagai kampus
“Semakin banyak berdiskusi akan membuat kita makin dalam memahami berbagai masalah dan karakter orang,”jelas Adian sambil mengepulkan asap dari rokok yang dihisapnya.
“Apa suka duka menjadi seorang aktivis?” pertanyaan ini dengan spontan ku lontarkan
Lama Adian diam, saya berpikir bahwa pertanyaan ini tidak akan dia jawab.
Helaan nafas yang Panjang dia berkata “Suka nya, banyak yang kita perjuangkan menjadi manfaat bagi bangsa,” jawabnya dengan datar, dia kemudian kembali diam
Setelah menghisap rokoknya dalam dalam, Adian kemudian berkata dengan pelan, “Dukanya beberapa teman tidak menikmati itu, Hilang bahkan Kuburannyapun aku tidak tahu,” katanya dengan lirih.
Kami berdua terdiam, saya bingung mau bertanya apa lagi, mungkin saja pertanyaan itu terlalu tendesius baginya.
Kucoba mengalihkan suasana dengan bercerita tentang pertemuan Senior GMKI yang akan dilaksanakan di Kota Bitung Sulawesi Utara. Saya kemudian bercerita bahwa Walikota Bitung adalah anak GMKI
“Kalau anak GMKI sampai jadi berarti dia punya kwalitas,” celetuk Adian
Kucoba memaparkan berbagai program pemerintahan Kota Bitung, mulai dari Jurnal Sepakat, dan keseriusan menghilangkan Diskriminasi dan Ketidakadilan, Adian tampak manggut manggut.
“Abang kita di Bitung punya Rumah Diakonia,” kataku mencoba menarik perhatiannya.
Adian kemudian menolehkan wajahnya kepadaku, mukanya tampak kebingungan, dengan spontan kuambil HP menunjukkan foto foto dari Tim Rumah Diakonia, saya memberi dia penjelasan bahwa Rumah Diakonia ini adalah sebuah Keadilan yang diberlakukan, sambil berjalan berbuat baik. Adian tampak serius melihat foto foto tim Rumah Diakonia.
“ini kena,” jawabnya singkat sambil memberikan jempol.
Melihat momen kembali datang, sayapun Kembali mengajukan pertanyaan
“Kenapa Abang menolak menjadi Menteri?”
Adian tampak termenung, pandangannya datar ke depan
“Aku merasa tau diri,” jawabnya dengan singkat
Selagi kami bercakap, beberapa pria tampak datang, semuanya teman Adian, karena terlihat mereka sudah biasa bahkan akrab.
“Saya ada urusan di Bogor, mau siap siap dulu yaa,” ujarnya.
Berpikir bahwa momen ini jarang berulang, saya memintanya untuk menjawab pertanyaan terakhir dariku
“Abang tahun 2024 siapa yang jadi jagoan di Pilpres,” tanyaku memberanikan diri
Dengan tersenyum dia beranjak dari tempat duduknya, sambil menepuk lenganku dia berkata
“2024 masih lama, nanti aja ya,” katanya sambil berlalu
Setelah Adian masuk ke dalam rumahnya, Saya masih bercakap dengan beberapa temannya, tampaknya mereka akan ke Bogor.
Tidak sampai 15 menit, Adian sudah Kembali keluar rumah, masih dengan kaos Oblong Putih, Celana Jeans, kali ini sudah memakai Kacamata dan Topi, yang menjadi ciri khasnya.
Adian kemudian naik Mobil Putih kalau tidak salah sejenis Fortuner yang dia kemudikan sendiri.
Ketika akan pergi dia menurunkan kaca mobilnya dan memanggilku
“Saya suatu waktu akan Napak Tilas ke Manado, nanti temanin ya,” Kata Adian dengan raut wajah yang ceria.
Saya hanya bisa mengangguk, siapa yang tidak mau jalan bersama sang legenda hidup Reformasi ini.
Tapi saya berpikir itu akan lama, karena Adian sendiri mengatakan bahwa dia tidak bisa terbang, karena tidak punya Peduli Lindungi, mungkin saja karena Vaksin yang dia pakai adalah Vaksin Nusantara.
Pertemuan itu begitu singkat, Itulah Adian dengan Kesahajaannya, mau berkomunikasi dengan siapa saja kendati mungkin tidak selevel dengan dia.
Sabtu Pagi 8 Januari 2022 di Kalibata, Jakarta Selatan
(anto)


